PAKISTAN - Bukan sekadar urusan dapur, minyak sawit kini naik panggung diplomasi. Pakistan dan Indonesia mengikat kerja sama industri vanaspati dan minyak goreng demi pasokan stabil dan dagang yang lebih seimbang.
Kerja sama perdagangan minyak sawit antara Pakistan dan Indonesia memasuki babak baru.
Pakistan Vanaspati Manufacturers Association (PVMA) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kolaborasi di sektor vanaspati dan minyak goreng.
Ketua PVMA Sheikh Umer Rehan menyebut kesepakatan ini sebagai langkah strategis dan positif bagi industri.
Indonesia dinilai sebagai mitra dagang utama Pakistan dalam penyediaan minyak sawit, sehingga MoU ini diharapkan memperkokoh hubungan perdagangan bilateral kedua negara.
Menurut Rehan, kesepakatan tersebut menjamin pasokan minyak sawit yang lebih stabil, perbaikan skema perdagangan, serta kepastian jangka panjang bagi industri.
Dampaknya, kata dia, akan dirasakan langsung oleh konsumen dan perekonomian nasional Pakistan.
MoU ini juga membuka ruang pertukaran informasi, inisiatif bersama, dan peluang kerja sama baru antar pelaku usaha kedua negara.
Selain memperkuat industri minyak goreng, kerja sama ini ditargetkan mendorong peningkatan volume perdagangan Pakistan–Indonesia.
Rehan menegaskan, PVMA memandang kerja sama internasional sebagai kunci menjaga keberlangsungan industri domestik, memastikan ketersediaan bahan baku, dan menjaga stabilitas harga.
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah Pakistan, yang ditunjukkan melalui kehadiran Menteri Perdagangan Federal Jam Kamal Khan dalam penandatanganan MoU tersebut.
Kesepakatan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi hubungan dagang jangka panjang Pakistan–Indonesia, dengan minyak sawit sebagai salah satu penggerak utamanya. (zan)

