JAKARTA - Industri kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai aset strategis nasional yang menopang perekonomian Indonesia, di tengah tantangan regulasi dan keberlanjutan.
Hal itu disampaikan para pemangku kepentingan industri dalam berbagai forum kebijakan, karena kontribusinya yang besar terhadap neraca perdagangan, ketahanan sosial, serta pembangunan daerah melalui hilirisasi pangan dan energi.
Policy and Program Director Prasasti Center, Piter Abdullah, menyebut sawit sebagai motor penggerak hilirisasi nasional, khususnya di sektor pangan dan energi.
Secara ekonomi, industri sawit mencatatkan output sebesar Rp1.119 triliun dengan nilai tambah mencapai Rp510 triliun per tahun.
Industri kelapa sawit memiliki peran krusial bagi perekonomian Indonesia. Selain menjadi penopang utama neraca perdagangan, sektor ini berkontribusi langsung terhadap ketahanan sosial dan pembangunan wilayah di lebih dari 300 kabupaten.
Dari sisi pelaku usaha, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, menilai industri sawit nasional sejatinya mampu melampaui standar keberlanjutan global.
Namun, ketidaksinkronan regulasi di dalam negeri justru memicu ketidakpastian usaha. Pandangan serupa disampaikan Rizalmi Fitrah ZA dari PalmCo, yang menyoroti persoalan legalitas lahan serta kelembagaan petani plasma sebagai hambatan utama dalam penerapan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO dan RSPO di lapangan. (zan)




