Beranda / Berita / Kebijakan / Limbah Sawit Bisa Tekan Impor ...
Kebijakan

Limbah Sawit Bisa Tekan Impor Pupuk, IPB Kritik Standar Terlalu Ketat

14 April 2026
2 menit membaca
Admin SahabatSawit
Limbah Sawit Bisa Tekan Impor Pupuk, IPB Kritik Standar Terlalu Ketat

Ilustrasi

Bagikan:

JAKARTA - Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dinilai bisa memangkas ketergantungan Indonesia pada pupuk impor.

Namun, standar pengolahan yang terlalu ketat justru berpotensi menghilangkan nilai ekonominya.

Pakar ilmu tanah IPB University, Basuki Sumawinata, menilai limbah cair sawit seharusnya diposisikan sebagai sumber nutrisi, bukan sekadar limbah yang dibuang.

Menurut dia, jika dikelola secara ilmiah, LCPKS dapat menggantikan sebagian pupuk kimia yang selama ini masih bergantung pada impor.

“Ini sumber nutrisi strategis yang bisa dikembalikan ke sistem produksi pertanian,” ujarnya, Senin 13 April 2026 dikutip ANTARA.

Indonesia memproduksi sekitar 50 juta ton minyak sawit per tahun. Dari angka itu, dihasilkan sekitar 100 juta ton limbah dengan kadar Biological Oxygen Demand (BOD) rata-rata 25.000 ppm. BOD merupakan indikator kebutuhan oksigen untuk mengurai bahan organik.

Basuki menyebut limbah tersebut mengandung unsur hara lengkap—mulai dari nitrogen, fosfor, kalium hingga magnesium dan unsur mikro lain.

Kandungan organiknya juga tinggi, sehingga berperan sebagai sumber karbon penting bagi kesuburan tanah.

Tanpa asupan bahan organik, tanah kehilangan daya dukung biologis. Dampaknya, produktivitas kebun turun dan ketergantungan pada pupuk kimia makin tinggi.

Ia mengkritik kebijakan yang mendorong penurunan BOD hingga di bawah 100 mg/l. Pada level itu, hampir seluruh karbon organik hilang, sehingga limbah tak lagi berfungsi sebagai pupuk.

“Kalau diterapkan secara luas, ini bisa jadi pemborosan. Kita justru makin bergantung pada pupuk impor,” kata Basuki.

Optimalisasi LCPKS, kata dia, bukan hanya soal pengelolaan limbah. Ini berkaitan langsung dengan efisiensi biaya produksi perkebunan dan daya saing industri sawit nasional.

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi, ketergantungan pada pupuk impor menjadi titik lemah ekonomi. Pemanfaatan limbah sawit dinilai bisa menjadi jalan keluar.

Basuki menekankan, regulasi lingkungan seharusnya tidak hanya berfokus pada standar pembuangan, tetapi juga mempertimbangkan nilai guna limbah bagi produktivitas pertanian.

“Dengan pendekatan ilmu tanah, limbah sawit bisa berubah dari masalah lingkungan menjadi aset strategis ekonomi,” ujarnya.

Tag:

Limbah SawitBasuki SumawinataGAPKI