PONTIANAK — Kenaikan harga pupuk dan BBM industri mulai menekan kinerja sektor kelapa sawit di Kalimantan Barat.
Lonjakan biaya produksi memukul operasional perusahaan perkebunan, terutama pada pos pemupukan dan distribusi hasil produksi.
Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Barat, Aris Supratman, mengatakan tekanan biaya kini dirasakan hampir seluruh pelaku usaha sawit di daerah. Pupuk menjadi salah satu komponen biaya terbesar setelah tenaga kerja.
“Kenaikan harga pupuk seperti urea, NPK, dan pupuk penunjang lainnya langsung menekan biaya pemeliharaan kebun. Karena pupuk sangat menentukan produktivitas tandan buah segar, sebagian perusahaan mulai melakukan efisiensi dengan mengurangi dosis atau menunda aplikasi,” kata Aris di Pontianak.
Selain pupuk, kenaikan harga BBM industri turut mendorong naiknya ongkos operasional.
Beban tambahan muncul dari penggunaan alat berat, pengangkutan tandan buah segar ke pabrik kelapa sawit, hingga distribusi crude palm oil (CPO) ke pelabuhan.
Menurut Aris, tekanan biaya mulai terasa sejak semester II 2026, terutama bagi pelaku usaha sektor hulu.
Meski harga jual sawit saat ini tergolong tinggi, kenaikan itu belum otomatis mendongkrak keuntungan perusahaan maupun petani.
“Biaya produksi ikut naik. Jadi margin usaha tidak meningkat secara maksimal,” ujarnya.
Dari sisi produksi, kondisi kebun sawit Kalbar masih relatif stabil. Mayoritas kebun produktif berusia 10 hingga 20 tahun masih berada dalam fase puncak produksi.
Namun, GAPKI mengingatkan risiko penurunan produktivitas dalam enam hingga 12 bulan ke depan jika kenaikan harga pupuk terus berlanjut dan pemupukan tidak berjalan optimal.
“Belum ada penurunan produksi signifikan saat ini. Tapi jika tekanan biaya berlanjut, dampaknya bisa mulai terlihat pada hasil panen mendatang,” kata Aris.
Di tengah tekanan biaya, harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kalimantan Barat justru mencatat tren positif. Pada April 2026, harga TBS untuk tanaman umur 10–20 tahun mencapai sekitar Rp3.726 per kilogram, salah satu level tertinggi sepanjang tahun ini.
Penguatan harga tersebut ditopang kenaikan harga CPO global, stabilnya pasar ekspor, tingginya permintaan, dan produktivitas kebun yang masih terjaga.
“Harga jual memang naik, tetapi biaya produksi juga ikut naik,” ujar Aris.

