JAKARTA — Pemerintah menyiapkan 3,5 juta ton crude palm oil (CPO) untuk program Biodiesel 50 (B50) yang mulai berlaku 1 Juli 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk menekan impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut alokasi itu bagian dari mandat Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong energi berbasis nabati.
“Sekitar 5,3 juta ton CPO kita arahkan menjadi biofuel. Ini perintah Presiden,” kata Amran di Makassar, Senin 6 April 2026.
Program B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan solar. Pemerintah menargetkan kebutuhan energi dalam negeri semakin bertumpu pada produksi domestik.
Indonesia saat ini menguasai sekitar 60 persen pasar CPO dunia. Produksi nasional juga meningkat signifikan. Ekspor yang sebelumnya berada di kisaran 26 juta ton, kini naik menjadi 32 juta ton.
Kenaikan produksi sekitar 6 juta ton dinilai cukup untuk mengakomodasi kebutuhan dalam negeri tanpa mengganggu ekspor.
Menurut Amran, lonjakan produksi dipicu kenaikan harga CPO global yang mendorong petani meningkatkan produktivitas kebun. Dengan kondisi ini, pengalihan 3,5 juta ton untuk biofuel dinilai tidak menggerus kinerja ekspor.
“B50 tercapai tahun ini. Kita kolaborasi dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan semua pihak,” ujarnya.
Kebijakan ini disebut memberi manfaat ganda: menjaga pasokan energi sekaligus mengerek harga sawit di tingkat petani.
Aktivitas ekonomi di daerah sentra sawit juga diprediksi meningkat, dari produksi hingga pengolahan CPO menjadi biofuel.
Di sisi lain, pemerintah memastikan pasokan energi tetap stabil agar kebutuhan solar terpenuhi tanpa ketergantungan impor.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan implementasi B50 berpotensi menghemat subsidi hingga Rp48 triliun.
Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil diperkirakan turun sekitar 4 juta kiloliter per tahun.
“Mulai 1 Juli 2026, B50 diberlakukan. Ini bagian dari upaya kemandirian dan efisiensi energi,” kata Airlangga.
Pemerintah menyebut PT Pertamina telah siap menjalankan kebijakan ini.
Dengan skema tersebut, Indonesia menargetkan ketahanan energi berbasis sawit sekaligus mempertahankan posisi sebagai pemain utama di pasar CPO global.

