Di Desa Gunung Bakti, Kota Subulussalam, Aceh, seorang perempuan bernama Risniati Tarigan pelan-pelan mengubah cara petani sawit mengelola kebun mereka. Dari aktivitas sehari-hari sebagai pedagang tandan buah segar (TBS), ia mendorong ratusan pekebun swadaya menerapkan praktik pertanian yang lebih baik hingga akhirnya meraih sertifikasi keberlanjutan internasional.
Risniati bukan hanya pedagang TBS. Ia juga penggerak kelompok petani yang kini mengelola ratusan hektare kebun sawit secara kolektif.
Setiap hari, waktunya terbagi antara rumah, kebun, dan usaha keluarga. Selama bertahun-tahun ia menjalani berbagai peran sekaligus—mengurus keluarga, merawat kebun, dan berdagang hasil panen.
Dari rutinitas itu tumbuh kepercayaan diri yang membuatnya berani melangkah lebih jauh di sektor yang selama ini didominasi laki-laki.
Dalam dua tahun terakhir, melalui CV Perangin-Angin Group (PAG), Risniati bekerja sama dengan dua pedagang lainnya dan hampir 300 pekebun swadaya yang mengelola sekitar 680 hektare kebun kelapa sawit.
Sebelumnya, banyak petani mengelola kebun dengan cara turun-temurun. Pemupukan sering dilakukan tanpa takaran jelas, pelepah disusun tanpa tujuan agronomis, dan tingkat kematangan buah kerap ditentukan hanya berdasarkan pengalaman.
Sebagai pedagang yang setiap hari berinteraksi dengan petani, Risniati melihat peluang perubahan.
Ia mulai bertanya: bagaimana jika petani memiliki panduan yang lebih jelas untuk mengelola kebun?
Jawaban itu ia temukan ketika mengenal pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) melalui program Sawit Terampil.
Program tersebut memperkenalkan praktik budidaya yang lebih terukur, mulai dari pemupukan tepat dosis, teknik panen yang benar, hingga penggunaan alat pelindung diri saat bekerja.
Risniati kemudian mengajak para petani yang memasok TBS kepadanya untuk ikut belajar bersama.
Menuju Sertifikasi Sawit Berkelanjutan
Perjalanan itu membawa kelompok petani yang dipimpinnya ke tahap berikutnya: sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).
Kesempatan tersebut datang melalui kerja sama IDH, Mondelēz International, dan Sinar Mas dalam program Sustainable Palm Oil Landscape Initiative di Aceh dan Sumatera Utara.
Program empat tahun ini didukung pemerintah Belanda dan Inggris melalui National Initiatives for Sustainable Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS).
CV Perangin-Angin Group resmi memperoleh sertifikasi RSPO sebagai kelompok pekebun swadaya.
Bagi Risniati, keberlanjutan bukan sekadar istilah teknis dalam industri sawit. Ia melihat dampaknya langsung di lapangan.
Kualitas buah meningkat, panen menjadi lebih konsisten, dan hasil produksi lebih mudah dipasarkan.
“Keberlanjutan bukan sekadar konsep,” katanya. “Ini cara praktis membantu petani meningkatkan kualitas panen sekaligus memastikan produk mereka diterima pasar.”
Perempuan di Tengah Industri Sawit
Perjalanan Risniati juga menyimpan tantangan lain: menjadi perempuan di sektor yang mayoritas diisi laki-laki.
Dalam banyak pertemuan petani dan diskusi teknis, ia kerap menjadi satu-satunya perempuan di ruangan itu. Rasa canggung dan keraguan pernah muncul. Namun ia memilih bertahan.
“Saya bangga,” ujar Risniati. “Saya percaya perempuan bisa setara, berpendidikan, dan berhasil di sektor ini.”
Baginya, sertifikasi RSPO bukan sekadar dokumen resmi. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa kerja keras dan keberanian untuk berubah bisa membuka jalan baru—terutama bagi perempuan di desa.
Ia kini mendorong perempuan lain untuk ikut terlibat dalam pengelolaan kebun sawit.
“Saya mengajak perempuan lain untuk terus belajar dan berkembang bersama. Saya berharap semakin banyak perempuan berani meningkatkan produktivitas lahannya,” katanya.
Di Gunung Bakti, perjalanan Risniati menunjukkan satu hal: perubahan besar sering lahir dari langkah kecil sehari-hari.
Dari kebun sawit dan aktivitas perdagangan TBS, seorang perempuan membuktikan bahwa ketekunan dapat menggerakkan ratusan petani menuju praktik sawit yang lebih berkelanjutan.

