Beranda / Berita / CSR & Lingkungan / Mahasiswa ITB Olah Limbah Sawi...
CSR & Lingkungan

Mahasiswa ITB Olah Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik untuk Tomat Premium

Inovasi mereka memanfaatkan palm oil mill effluent (POME), limbah cair pabrik kelapa sawit yang selama ini menjadi persoalan lingkungan, melalui proses fermentasi mikrobiologis.

24 Januari 2026
2 menit membaca
Admin SahabatSawit
Mahasiswa ITB Olah Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik untuk Tomat Premium

Tiga mahasiswa ITB yang tergabung dalam Tim Althara menunjukkan inovasi pupuk organik cair berbasis limbah cair kelapa sawit (POME) yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas tomat Momotaro dan menekan penggunaan pupuk kimia. FOTO: ITB

Bagikan:

JAWA BARAT - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan pupuk organik cair dari limbah cair kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas tomat Momotaro sekaligus menekan dampak lingkungan industri sawit.

Mahasiswa tersebut tergabung dalam Tim Althara: Agnes Ruth Savira, Maritza Kayla Zasky Gagasan itu dipresentasikan dalam ajang karya tulis ilmiah Festival Engineering Api Biru (FEAB) 2025 di Jakarta, yang mengusung tema “Akselerasi Indonesia Impact”.

Tim Althara menawarkan pendekatan ekonomi sirkular dengan menghubungkan industri sawit dan pertanian hortikultura.

Hasil fermentasi POME tersebut menghasilkan biofertilizer yang tidak hanya meningkatkan pertumbuhan tanaman, tetapi juga memberi perlindungan alami terhadap hama.

Uji aplikasi dilakukan pada tomat Momotaro, komoditas hortikultura bernilai tinggi yang membutuhkan input nutrisi presisi.

“Tomat Momotaro membutuhkan pupuk berkualitas. Kami ingin menunjukkan limbah bisa diolah menjadi solusi, baik bagi petani sawit maupun petani hortikultura,” kata Naveed mewakili tim, dikutip dari situs resmi ITB, Jumat (23/1/2026).

Pascapanen. Inovasi mereka memanfaatkan palm oil mill effluent (POME), limbah cair pabrik kelapa sawit yang selama ini menjadi persoalan lingkungan, melalui proses fermentasi mikrobiologis.

Penggunaan pupuk organik cair ini dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia dan pestisida.

Selain menekan biaya produksi, inovasi ini juga dinilai dapat meningkatkan daya saing produk hortikultura Indonesia di pasar global.

Tim Althara menilai keberhasilan di FEAB 2025 sebagai langkah awal. Mereka menargetkan pengembangan lebih lanjut hingga tahap implementasi lapangan dan komersialisasi, termasuk peluang ekspor hortikultura premium.

“Dari tantangan justru muncul peluang untuk berinovasi,” kata tim tersebut. Mereka berharap inovasi ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk mengembangkan solusi terapan yang berdampak langsung bagi masyarakat. (zan)

 

 

Tag:

Institut Teknologi BandungMahasiswa ITB limbah cair kelapa sawit Tim AltharaFEAB 2025 Festival Engineering Api Biru

Berita Terkait