JAKARTA — PT Agrinas Palma Nusantara menggandeng Rumah Sawit Indonesia (RSI) untuk mempercepat Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), menyusul rendahnya produktivitas kebun sawit milik petani yang masih tertinggal dibanding perkebunan swasta maupun BUMN.
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, mengatakan produktivitas perkebunan sawit rakyat saat ini rata-rata hanya mencapai 2,6 ton crude palm oil (CPO) per hektare per tahun.
Angka itu masih di bawah produktivitas perkebunan besar swasta yang mencapai 3,4 ton CPO per hektare per tahun, serta jauh tertinggal dari perkebunan BUMN yang menyentuh 4,8 ton per hektare per tahun.
“Rendahnya produktivitas sawit rakyat salah satunya dipicu rendahnya realisasi Program Peremajaan Sawit Rakyat. Padahal luas kebun sawit rakyat mencapai 42 persen dari total perkebunan sawit nasional,” kata Ghani dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Untuk mendorong percepatan PSR, Agrinas Palma dan RSI menandatangani nota kesepahaman guna memperkuat kapasitas kelembagaan petani sawit serta mendorong pengelolaan kebun rakyat menuju standar industri.
Kerja sama itu diteken Ghani dan perwakilan Ketua Umum RSI, Yunita Sidauruk, di sela Forum Diskusi Terbatas bertema Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat sebagai Langkah Membawa Petani ke Era Industri.
Menurut Ghani, kemitraan yang dibangun mengusung konsep manajemen terpadu. Skema ini dirancang agar petani tetap mendapat pendampingan meski telah menyelesaikan kewajiban pembiayaan program peremajaan.
“Kemitraan harus setara. Perusahaan dan petani berdiri sejajar dengan tata kelola kebun yang terjaga,” ujarnya.
Ketua Umum RSI Kacuk Sumarto menilai PSR merupakan instrumen utama untuk mendongkrak produktivitas sawit rakyat secara cepat dan terukur.
Ia menyebut peremajaan kebun tua dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan sekaligus menekan biaya produksi dalam jangka panjang.
“Ketika petani masuk ke level industri, produktivitas tinggi menjadi syarat utama,” kata Kacuk.
Menurut dia, posisi petani yang menguasai 42 persen total areal sawit nasional membuat keberhasilan PSR menjadi faktor strategis dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen.
RSI dan Agrinas menargetkan pola kemitraan ini menjadi model baru pengelolaan sawit rakyat berbasis industrialisasi yang dapat diterapkan secara nasional.

