Beranda / Berita / Kebijakan / Produksi, Konsumsi, dan Ekspor...
Kebijakan

Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Sawit Indonesia Meningkat pada April 2026

30 Juni 2026
2 menit membaca
Admin SahabatSawit
Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Sawit Indonesia Meningkat pada April 2026

Ilustrasi

Bagikan:

JAKARTA - Kinerja industri minyak sawit Indonesia membaik pada April 2026. Produksi, konsumsi domestik, dan ekspor sama-sama meningkat dibandingkan Maret 2026. Namun, kenaikan aktivitas itu membuat stok minyak sawit nasional justru turun.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan total produksi CPO dan PKO pada April mencapai 4,903 juta ton atau naik 1,7 persen dibandingkan Maret yang sebesar 4,821 juta ton.

Produksi CPO meningkat menjadi 4,479 juta ton, sedangkan produksi PKO turun tipis menjadi 416 ribu ton.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, mengatakan secara tahunan produksi minyak sawit Indonesia hingga April 2026 mencapai 20,461 juta ton.

Angka itu meningkat 13,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 18,039 juta ton.

Konsumsi domestik juga naik menjadi 2,141 juta ton atau bertambah 1,23 persen dibandingkan Maret. Peningkatan terutama ditopang konsumsi biodiesel yang naik 7,67 persen menjadi 1,137 juta ton dan oleokimia yang meningkat 6,79 persen menjadi 173 ribu ton. Sebaliknya, konsumsi pangan turun 7,36 persen menjadi 831 ribu ton.

Secara kumulatif Januari-April 2026, konsumsi dalam negeri mencapai 8,666 juta ton atau naik 6,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan terbesar terjadi pada ekspor produk sawit. Volume ekspor April 2026 mencapai 2,777 juta ton atau melonjak 28,09 persen dibandingkan Maret yang sebesar 2,168 juta ton.

Ekspor CPO meningkat 59,38 persen menjadi 153 ribu ton. Ekspor olahan minyak sawit naik 35,52 persen menjadi 2,041 juta ton.

Sementara ekspor oleokimia bertambah menjadi 486 ribu ton dan olahan minyak inti sawit mencapai 97 ribu ton.

Sepanjang Januari-April 2026, total ekspor produk sawit mencapai 11,324 juta ton atau meningkat 20,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

China menjadi pasar dengan kenaikan impor terbesar pada April 2026, disusul Afrika, Amerika Serikat, India, Timur Tengah, Pakistan, Bangladesh, dan Uni Eropa.

Sebaliknya, ekspor ke Rusia dan Malaysia mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Nilai ekspor produk sawit juga meningkat dari US$ 2,61 miliar pada Maret menjadi US$ 3,38 miliar pada April atau naik 29,5 persen.

Secara kumulatif hingga April 2026, nilai ekspor mencapai US$ 13,04 miliar, tumbuh 20,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Mukti Sardjono, kenaikan nilai ekspor didorong oleh peningkatan volume pengiriman serta harga minyak sawit yang lebih tinggi.

Rata-rata harga CPO Januari-April 2026 mencapai US$ 1.408 per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1.211 per ton.

Meski produksi meningkat, stok minyak sawit Indonesia pada akhir April 2026 turun menjadi 2,558 juta ton dari posisi akhir Maret sebesar 2,568 juta ton.

Penurunan terjadi karena kenaikan konsumsi domestik dan ekspor lebih besar dibandingkan tambahan produksi. (zan)

Tag:

GAPKIDirektur Eksekutif GAPKIMukti SardjonoEkspor Sawit