JAKARTA – Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (IEAEU FTA) membuka peluang besar bagi ekspor Indonesia setelah 90,5 persen tarif produk di lima negara anggota Eurasia disepakati untuk dihapus atau diturunkan.
Komoditas unggulan seperti minyak sawit, kopi, tekstil, alas kaki, hingga produk perikanan diproyeksi menjadi penerima manfaat terbesar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan Indonesia memperoleh komitmen penghapusan dan penurunan tarif terhadap 11.882 pos tarif dari total tarif yang berlaku di kawasan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), yang beranggotakan Rusia, Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kyrgyzstan.
"Produk ekspor unggulan Indonesia yang memperoleh manfaat antara lain sawit dan produk turunannya, karet alam, kopi, produk perikanan, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, mesin dan peralatan listrik, kayu, serta produk kayu," kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, Selasa, dikutip ANTARA.
Perjanjian yang ditandatangani pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg, Rusia, itu dinilai menjadi langkah strategis memperluas pasar ekspor Indonesia ke kawasan Eurasia yang memiliki populasi sekitar 183,7 juta jiwa dengan produk domestik bruto mencapai 3,04 triliun dolar AS pada 2025.
Selain memperkuat daya saing produk nasional, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), IEAEU FTA juga membuka akses Indonesia ke pasar Asia Tengah, Asia Barat, dan Eropa Timur melalui kawasan Eurasia.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia juga menurunkan tarif terhadap 10.257 pos tarif atau sekitar 89,9 persen dari total tarif nasional.
Kebijakan ini terutama berlaku bagi produk yang dibutuhkan industri dalam negeri, seperti gandum, pupuk, produk farmasi, bahan kimia dasar, mesin dan peralatan listrik, produk olahan susu, serta kertas dan pulp.
Kementerian Perdagangan memperkirakan implementasi IEAEU FTA akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke kawasan Eurasia menjadi sekitar 2,87 miliar hingga 2,89 miliar dolar AS.
Perjanjian ini juga diproyeksikan menambah kesejahteraan nasional sebesar 69,98 juta dolar AS dan mendorong kenaikan PDB riil Indonesia sebesar 0,0059 persen.
Menurut Budi, pembukaan akses pasar yang lebih luas akan memperkuat posisi produk Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus memperbesar peluang ekspor pelaku usaha nasional, terutama UMKM, ke pasar nontradisional yang selama ini belum tergarap secara optimal. (git)

