RIAU - Di antara aroma tanah basah dan riuh tenda-tenda relawan yang berdiri di lahan terbuka Kecamatan Siak Hulu, sosok Rocky Gerung tampak duduk bersila bersama para petani, mahasiswa, dan aktivis lingkungan.
Ia bukan sekadar hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari semangat bersama dalam Jambore Karhutla 2025 – sebuah momen kolaborasi untuk melawan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kerap menghantui Riau.
Acara yang digagas oleh Polda Riau bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Riau ini menjadi magnet bagi banyak kalangan.
Namun kehadiran Rocky memberi warna tersendiri. Dengan gaya khasnya yang tajam dan lugas, Rocky menyampaikan pandangannya tentang pentingnya membangun kesadaran ekologis sebagai fondasi kebijakan publik.
“Karhutla bukan sekadar peristiwa alam atau kelalaian teknis. Ia adalah gejala dari cara berpikir yang salah arah. Di sinilah pentingnya akal sehat. Dan Jambore ini adalah laboratorium akal sehat kolektif,” ujar Rocky saat membuka sesi dialog bertema “Lingkungan dan Nalar Publik”.
Jambore, Bukan Sekadar Kumpul Relawan
Jambore Karhutla 2025 bukan ajang seremonial. Selama tiga hari, ratusan peserta dari berbagai kabupaten di Riau mengikuti pelatihan mitigasi karhutla, simulasi penanganan kebakaran, hingga diskusi lintas sektor yang membahas tata kelola lahan berkelanjutan.
Di sinilah ruang bertemu antara polisi, petani, pelajar, hingga tokoh nasional seperti Rocky.
Kapolda Riau, Irjen Pol Dedi Santoso, menyebut Jambore ini sebagai “Arena gotong-royong hijau.”
Menurutnya, pencegahan karhutla tak bisa hanya mengandalkan aparat dan teknologi, tetapi membutuhkan narasi baru yang membangkitkan kepedulian warga.
“Rocky Gerung hadir bukan hanya sebagai pengamat, tapi sebagai penggerak pikiran. Beliau mengingatkan kita bahwa menjaga hutan adalah bagian dari menjaga nalar publik kita,” ujar Kapolda.
Menyatu dengan Masyarakat
Selama Jambore, Rocky tidak hanya berbicara di panggung. Ia berjalan dari tenda ke tenda, berdiskusi langsung dengan petani gambut, mendengarkan kisah para relawan muda yang tidur beralaskan tikar untuk menjaga titik api di daerah mereka.
Ia juga turut menanam bibit pohon bersama siswa SMA setempat dalam sesi simbolis bertajuk “Menanam Masa Depan”.
Gubernur Riau, Edy Rahman, menyambut baik partisipasi Rocky. “Kami ingin Karhutla tidak hanya dipadamkan, tapi dicegah dengan edukasi dan kesadaran. Kehadiran tokoh-tokoh nasional seperti Rocky adalah bentuk dukungan moral yang penting,” katanya.
Melampaui Politik, Merawat Bumi
Rocky sendiri menegaskan bahwa isu karhutla bukan milik satu kelompok politik, satu instansi, atau satu provinsi. Ia menilai bahwa krisis lingkungan adalah krisis peradaban, dan Jambore Karhutla 2025 adalah langkah konkret melampaui retorika.
“Kalau kita bisa berkumpul tanpa sekat jabatan, tanpa sekat ideologi, untuk menjaga hutan—maka di sanalah republik ini menemukan kembali jati dirinya,” tutup Rocky.
Jambore Karhutla 2025 menjadi bukti bahwa harapan tidak padam di tengah abu. Dengan kolaborasi, dedikasi, dan akal sehat, Riau melangkah menuju masa depan yang lebih hijau—dan Rocky Gerung menjadi salah satu suara penting yang mengingatkan: bumi ini warisan untuk dipelihara, bukan dibakar. (bud)

