SEPANG - Malaysia kembali menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan dan penguatan posisi di industri minyak kelapa sawit global.
Satu di antaranya dengan meluncurkan penggunaan biodiesel berbasis kelapa sawit B20 untuk peralatan layanan darat (GSE) di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).
Inisiatif ini diklaim akan memposisikan Malaysia sebagai pemain yang bertanggung jawab dan berpikiran maju.
Menteri Perkebunan dan Komoditas, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, dikutip sirait time menyatakan langkah ini merupakan tonggak sejarah karena ini kali pertama biodiesel sawit B20 diperkenalkan untuk layanan darat bandara atau sektor industri di Malaysia.
"Ini menandai momen bersejarah," ujarnya.
Peluncuran ini menyusul proyek percontohan selama 18 bulan yang digagas oleh Dewan Minyak Kelapa Sawit Malaysia (MPOB) untuk mengevaluasi kinerja biodiesel B20 di GSE KLIA.
Proyek ini merupakan kolaborasi antara MPOB, Petronas Dagangan Bhd, Malaysia Airports Holdings Bhd, dan Teras Kembang Sdn Bhd.
Johari menambahkan bahwa Program Biodiesel Nasional Malaysia telah berjalan secara komersial sejak 2011, dimulai dengan Program B5, kemudian diperluas ke B7 untuk sektor transportasi, dan selanjutnya diwajibkan menjadi B10 pada 1 Februari 2019.
Program B7 juga diwajibkan untuk sektor industri pada 1 Juli 2019. Sementara itu, program B20 untuk sektor transportasi telah diluncurkan pada Januari 2020 di beberapa lokasi seperti Langkawi, Labuan, dan Sarawak.
Inisiatif ini mencerminkan dedikasi berkelanjutan Malaysia untuk memajukan biofuel berkelanjutan melalui berbagai program, memperkuat posisinya sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.(zan)

