KALBAR – Kemarau mulai mengganggu pengangkutan crude palm oil (CPO) di Kalimantan Barat. Penurunan debit air dan pendangkalan alur Sungai Kapuas membuat perusahaan sawit harus mengalihkan sebagian angkutan CPO ke jalur darat.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Barat, Aris Supratman, mengatakan perubahan moda angkutan tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik perusahaan.
“Penurunan debit air dan pendangkalan alur Sungai Kapuas menyebabkan pengangkutan CPO melalui jalur sungai menjadi terkendala. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan perlu melakukan pengalihan sementara ke jalur darat,” ujar Aris.
Menurut dia, kenaikan biaya angkutan dapat berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani jika gangguan berlangsung lama.
“Peningkatan biaya logistik pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap harga TBS yang diterima petani,” katanya.
Namun, Aris menegaskan gangguan distribusi CPO tidak otomatis membuat perusahaan mengurangi pembelian TBS petani.
Perusahaan, kata dia, tetap berkomitmen menyerap produksi TBS. Risiko pengurangan pembelian baru muncul jika gangguan pengangkutan berlangsung berkepanjangan hingga kapasitas penyimpanan terbatas, operasional pabrik terganggu, atau tekanan biaya semakin besar.
“Perusahaan tetap memiliki komitmen untuk menyerap produksi TBS petani,” ujarnya.
Karena itu, kelancaran jalur distribusi CPO, terutama melalui Sungai Kapuas, menjadi penting bagi industri sawit Kalimantan Barat.
Menurut Aris, persoalan transportasi CPO bukan hanya menyangkut biaya perusahaan. Gangguan distribusi juga bisa berpengaruh terhadap keberlangsungan serapan TBS dan pendapatan petani sawit.
“Kelancaran distribusi CPO sangat penting agar aktivitas industri tetap berjalan dan serapan TBS petani tetap terjaga,” pungkasnya. (zan)

