Beranda / Berita / Kebijakan / GAPKI Kalbar Minta Auditor ISP...
Kebijakan

GAPKI Kalbar Minta Auditor ISPO Jadi Sistem Peringatan Dini Perusahaan

19 Agustus 2026
2 menit membaca
Admin SahabatSawit
GAPKI Kalbar Minta Auditor ISPO Jadi Sistem Peringatan Dini Perusahaan
Bagikan:

KALBAR — GAPKI Kalimantan Barat meminta internal auditor ISPO tidak sekadar menjadi petugas yang menyiapkan perusahaan menghadapi audit eksternal.

Auditor internal harus menjadi sistem peringatan dini untuk menemukan masalah sebelum berubah menjadi temuan audit.

Permintaan itu menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan peningkatan pemahaman dan implementasi ISPO yang digelar GAPKI Kalbar bersama perusahaan anggota dan pemangku kepentingan terkait di Pontianak, 19 Agustus 2026.

Ketua GAPKI Cabang Kalbar, Aris Supratman mengakatan celah dalam pemenuhan persyaratan ISPO harus ditemukan sedini mungkin.

Ketidaksesuaian perlu segera diperbaiki, sementara dokumen dan praktik operasional harus berjalan secara konsisten.

“Internal auditor harus menjadi early warning system bagi perusahaan,” kata Aris,

Pendekatan itu dinilai penting karena kondisi perusahaan tidak sama. Ada perusahaan yang telah bersertifikat dan memasuki tahap surveillance. Ada pula yang masih menjalani proses sertifikasi dan membenahi berbagai persyaratan.

Karena itu, GAPKI mendorong penerapan ISPO tidak dilakukan menjelang audit saja. Prinsip ISPO harus masuk ke dalam pekerjaan sehari-hari perusahaan.

Materi kegiatan mencakup kebijakan terbaru ISPO, prinsip dan kriteria, masa transisi regulasi, pelaksanaan audit dan surveillance, hingga simulasi mock audit. Peserta juga membahas persoalan yang muncul dalam penerapan ISPO di lapangan.

GAPKI menilai pendekatan semacam itu lebih berguna dibanding sekadar sosialisasi.

Perusahaan dapat mengidentifikasi masalah, membandingkan praktik yang berjalan dengan persyaratan ISPO, lalu menentukan tindakan perbaikan.

Target akhirnya adalah 100 persen perusahaan anggota GAPKI Kalimantan Barat tersertifikasi ISPO.

Sertifikasi, kata Aris, tidak boleh menjadi pekerjaan tambahan yang hanya dikerjakan ketika audit mendekat.

ISPO harus menjadi bagian dari good corporate governance dan operational excellence.

Dengan pola itu, keberlanjutan tidak berhenti pada sertifikat. Ia harus terlihat dalam cara perusahaan mengelola legalitas, lingkungan, pekerja, masyarakat, dan operasional perkebunan. (zan)

Tag: