Beranda / Berita / Kebijakan / Data Geospasial Patahkan Tuduh...
Kebijakan

Data Geospasial Patahkan Tuduhan Sawit Jadi Sumber Utama Karhutla

6 Oktober 2026
13 menit membaca
Admin SahabatSawit
Data Geospasial Patahkan Tuduhan Sawit Jadi Sumber Utama Karhutla

Petugas mengikuti simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla.

Bagikan:

JAKARTA — Data geospasial menunjukkan sebagian besar titik panas pada September 2026 berada di luar areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola secara formal.

Dari 28.692 hotspot yang tercatat sepanjang 1–30 September, analisis spasial menunjukkan sekitar 84 persen berada di luar kebun sawit terkelola.

Data tersebut dipaparkan pakar kehutanan Dr Petrus Gunarso dalam diskusi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan), Kamis, 1 Oktober 2026. Analisis dilakukan dengan membandingkan data Sipongi Kementerian Kehutanan, tutupan sawit, dan peta kawasan hutan.

Sebanyak 16 persen hotspot terdeteksi berada di areal perkebunan sawit yang dikelola secara formal.

Sementara 84 persen lainnya berada di luar area tersebut, antara lain kawasan hutan konversi sekitar 15 persen, hutan lindung 10 persen, serta kawasan terbuka yang tidak dikelola secara formal.

Temuan itu memperlihatkan bahwa keberadaan hotspot tidak otomatis menunjukkan kebakaran berasal dari perkebunan sawit.

Bahkan, lahan yang memiliki pengelola resmi justru tercatat memiliki proporsi hotspot lebih rendah dibandingkan kawasan yang tidak terkelola.

Namun, data hotspot tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan. Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan hotspot merupakan indikator suhu tinggi dan tidak bisa langsung disamakan dengan kejadian kebakaran.

“Hotspot adalah indikator suhu tinggi yang perlu diverifikasi faktual di lapangan,” kata Bagus.

Kementerian Pertanian mencatat 28.692 hotspot sepanjang September 2026.

Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah tertinggi, yakni 10.896 titik, disusul Kalimantan Barat 3.969 titik dan Sumatera Selatan 3.506 titik.

Di tingkat perusahaan, Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono menyebut belum ada laporan titik api yang membakar area konsesi perusahaan anggota GAPKI hingga saat ini.

Menurut dia, perusahaan memperketat pengawasan dan berkoordinasi dengan pemerintah serta organisasi kehutanan dalam pencegahan karhutla.

Persoalan karhutla karena itu tidak cukup dilihat dari keberadaan komoditas atau tutupan lahan.

Pengelolaan kawasan, status lahan, aktivitas masyarakat, tata ruang, serta praktik pembukaan lahan ikut menentukan risiko kebakaran.

Data tersebut sekaligus mengingatkan bahwa penyebutan hotspot sebagai bukti langsung kebakaran di kebun sawit berpotensi menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Setiap titik panas tetap membutuhkan verifikasi untuk mengetahui lokasi, sumber, dan penyebab apinya. (zan)

Tag:

Data geospasialKarhutlaDr Petrus Gunarso