SUMATERA UTARA - PTPN IV PalmCo mulai menguji serangga penyerbuk unggul asal Tanzania untuk mendongkrak produktivitas kelapa sawit nasional.
Uji coba dilakukan di Kebun Marihat, Simalungun, Sumatera Utara, sebagai respons atas persoalan klasik: penyerbukan yang tak optimal.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menyebut pendekatan berbasis riset dipilih untuk menekan ketergantungan pada metode lama yang mahal dan tidak efisien.
“Penyerbukan alami tidak selalu berjalan optimal. Cuaca dan keterbatasan serangga lokal memengaruhi hasil produksi,” katanya, Jumat.
Selama ini perusahaan masih mengandalkan penyerbukan manual untuk menjaga produktivitas.
Cara itu memakan biaya besar dan tenaga kerja tinggi. Introduksi serangga dari Afrika diarahkan untuk mengembalikan proses penyerbukan ke mekanisme alami sekaligus meningkatkan efisiensi.
Masalah utama yang dibidik adalah kualitas pembentukan buah atau fruit set. Penyerbukan yang tidak sempurna kerap memicu “buah ompong”, kondisi ketika tandan tidak terisi penuh. Dampaknya langsung: produksi per hektare turun.
SEVP Operation PTPN IV Rediman Silalahi menegaskan kualitas penyerbukan menentukan struktur tandan.
“Jika fertilisasi tidak optimal, tonase ikut turun,” ujarnya.
PalmCo menempatkan program ini sebagai proyek percontohan nasional. Hasil uji coba akan menjadi dasar standar operasional baru, termasuk untuk kebun rakyat. Targetnya jelas: produktivitas naik tanpa menambah beban biaya.
Program melibatkan Kementerian Pertanian, BPDPKS, Badan Karantina Indonesia, serta lembaga riset dan pelaku industri.
Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan inovasi berjalan dan dapat direplikasi di berbagai wilayah.
Di tengah kompetisi global yang kian ketat, langkah ini menjadi taruhan: apakah serangga impor mampu menjawab stagnasi produktivitas sawit nasional.

