KALBAR - Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal dan lebih kering. Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat. Sinar Mas Agribusiness and Food merespons dengan memperkuat simulasi pemadaman di Kalimantan Barat dan Lampung.
Langkah ini mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyebut kemarau tahun ini cenderung lebih panjang dengan tingkat kekeringan lebih tinggi di sejumlah wilayah rawan karhutla.
Perusahaan menjalankan pendekatan terintegrasi melalui skema GAR Integrated Fire Management.
Sistem ini mencakup lima pilar: pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, respons cepat, serta monitoring dan evaluasi pascakebakaran.
Di Kabupaten Ketapang, anak usaha PT Agro Lestari Mandiri menggelar simulasi di empat area operasional. Sekitar 25 peserta di tiap lokasi dilibatkan, mulai dari tim teknis hingga manajer.
Simulasi dimulai dari apel siaga, pengecekan alat, hingga praktik pemadaman. Peralatan seperti pompa air portabel, selang, dan alat pelindung diri diuji langsung di lapangan.
Peserta juga mempraktikkan pengoperasian pompa dan penyemprotan air ke titik api yang disimulasikan dengan dukungan mobil tangki.
Keterlibatan manajer menjadi bagian penting untuk memastikan rantai komando berjalan saat kondisi darurat.
“Kesiapsiagaan bukan hanya soal alat, tapi pemahaman peran setiap individu,” kata Head of Fire and Peat Management Sinar Mas Agribusiness and Food, Anselmus Ahmad Suprianto.
Simulasi serupa digelar di Lampung oleh PT Sumber Indah Perkasa. Kegiatan mencakup apel siaga, sosialisasi, dan praktik penanganan karhutla di area perkebunan sawit dan plasma hampir 25 ribu hektare di Mesuji dan Tulang Bawang.
Perusahaan menyiagakan 60 personel gabungan, terdiri dari tim internal dan Masyarakat Siaga Api.
Delapan unit mobil pemadam, pompa jinjing, hingga pompa punggung disiapkan untuk mendukung operasi lapangan.
Region Controller PT Sumber Indah Perkasa, Humala Sinaga, menyebut koordinasi lintas pihak terus diperkuat, termasuk dengan unsur pimpinan kecamatan dan pemangku kepentingan lain.
Selain simulasi, kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara perusahaan, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat.
Upaya ini menegaskan satu hal: menghadapi kemarau kering, kesiapan personel, kelengkapan alat, dan koordinasi menjadi faktor penentu untuk menekan risiko karhutla yang berdampak langsung pada lingkungan dan masyarakat.

