Beranda / Berita / Kebijakan / Eddy Martono Sebut Sawit Jadi ...
Kebijakan

Eddy Martono Sebut Sawit Jadi Senjata Geopolitik Indonesia

Pada 2022, ekspor sawit menyumbang devisa sebesar 39 miliar dolar AS dan ikut mendorong surplus neraca perdagangan Indonesia hingga 56 miliar dolar AS.

24 Januari 2026
2 menit membaca
Admin SahabatSawit
Eddy Martono Sebut Sawit Jadi Senjata Geopolitik Indonesia

Ketua Gapki Eddy Martono. FOTO : HUMAS

Bagikan:

YOGYAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai industri kelapa sawit masih menjadi penopang utama perekonomian nasional sekaligus instrumen strategis Indonesia di level global.

Peran sawit dinilai krusial bagi pendapatan jutaan keluarga, devisa negara, hingga ketahanan energi dan pangan.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan industri sawit menopang penghidupan sekitar 16,5 juta kepala keluarga, mulai dari petani hingga pekerja di sektor industri.

Pada 2022, ekspor sawit menyumbang devisa sebesar 39 miliar dolar AS dan ikut mendorong surplus neraca perdagangan Indonesia hingga 56 miliar dolar AS.

“Industri ini diharapkan terus tumbuh dan menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan dan energi, pembangunan wilayah, serta keberlanjutan lingkungan,” kata Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/1/2026), dikutip ANTARA.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menyebut Indonesia menguasai sekitar 48 persen produksi minyak sawit dunia.

Pada 2025, luas kebun sawit diperkirakan mencapai 17,1 juta hektare dengan produksi minyak sawit mentah (CPO) sebesar 49,4 juta ton.

Menurut Bustanul, tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan sawit bergerak ke arah industri berkelanjutan.

Kunci utamanya terletak pada hilirisasi produk dan penguatan sektor hulu perkebunan, disertai konsistensi kebijakan budidaya serta peningkatan nilai tambah.

“Hilirisasi harus diarahkan pada pengembangan industri pangan fungsional yang berdampak pada kesehatan,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Mulawarman Zulkarnain menilai kelapa sawit telah melampaui status sebagai komoditas pertanian.

Produktivitasnya yang tinggi dan perannya sebagai tulang punggung industri pangan, energi, dan manufaktur global menjadikan sawit sebagai isu strategis nasional.

“Dominasi ini membuat sawit menjadi sasaran kritik, regulasi ketat, dan konflik kebijakan internasional,” kata Zulkarnain.

Ia menambahkan, sawit kini menjadi kekuatan geopolitik ekonomi Indonesia. Meski kepemilikan pemerintah atas kebun sawit relatif kecil, aktivitas perkebunan memberikan dampak ekonomi luas melalui pola plasma inti, peningkatan kesuburan tanah, serta penguatan ekonomi masyarakat sekitar kebun.

Dari sisi energi, sawit juga menjadi bahan baku utama energi baru terbarukan. Berdasarkan kajian teknis, lingkungan, sosial, dan ekonomi, industri sawit dinilai memberikan dampak positif terhadap pembangunan wilayah sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perekonomian global. (zan)

 

Tag:

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia GAPKI KalbarGAPKI KalselGuru Besar Fakultas Pertanian Universitas LampungGuru Besar Ilmu Tanah Universitas Mulawarman

Berita Terkait